
Navicula, band grunge asal Bali menjadi salah satu penampil dalam Blues4Freedom—salah satu program acara dari perhelatan akbar seni rupa Indonesia tiap dua tahun sekali, Jakarta Biennale, yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak 1968.
Acara yang digelar Jumat [29/7] malam tersebut berlangsung mulai pukul enam petang hingga hari Sabtu pukul dua dini hari di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Navicula yang tampil sesudah Efek Rumah Kaca dan sebelum band terakhir Gugun Blues Shelter, akhirnya membawakan enam buah lagu. Padahal, sejatinya mereka telah menyiapkan sembilan lagu untuk setlist malam hari itu, seperti yang telah dibeberkan oleh vokalis/gitaris Gede Roby Supriyanto kepada Rolling Stone beberapa jam sebelum Navicula naik panggung.
Sebuah kejadian cukup mengenaskan membuat apa yang telah direncanakan pada awalnya itu tidak dapat terwujud. Pemain bass Made yang melakukan stage diving (melompat dari panggung ke kerumunan penonton) pada saat Navicula membawakan lagu “Aku Bukan Mesin” dan tidak direspon oleh penonton, membuatnya tidak dapat melanjutkan penampilan dan secara otomatis mengakibatkan pertunjukan Navicula terhenti.
“Mohon maaf, penampilan harus kami cut. Kami lanjutkan di kesempatan yang lain,” kata Roby kepada penonton dari atas panggung, setelah sebelumnya ia sempat turun dari panggung bersama personel yang lain untuk memeriksa keadaan Made.
Made yang ketika tampil bersama Navicula menempati sisi kiri panggung (dari arah pandang penonton) saat itu terlihat meletakkan bassnya ketika lagu “Aku Bukan Mesin” telah mencapai bagian coda dan gitaris Dankie tengah meraungkan gitarnya sembari berlutut.
Kemudian, secara tiba-tiba Made berlari dengan cepat ke arah kanan panggung—melewati Roby dan Dankie—dan terjun ke kerumunan penonton di sayap kanan yang memang notabene terpantau menjadi arena body surfing semenjak Navicula membawakan lagu pertama mereka, “Menghitung Mundur.”
Tidak ada yang menduga Made akan melakukan hal tersebut. Terlihat jelas dari bagaimana tak satu pun penonton di sayap kanan tersebut yang merespon ketika Made terjun ke arah sana.
Dari posisi Rolling Stone berdiri, yaitu di sayap kiri, sulit untuk memastikan apa yang terjadi beberapa saat setelah Made mendarat di lantai, di bawah kerumunan penonton tersebut. Hanya sempat terlihat sepasang tangan milik salah seorang penonton yang terangkat ke udara dan membuat simbol “T” (time-out) seperti hendak menyuruh Navicula menghentikan pertunjukannya.
Made lantas digotong oleh beberapa orang dan dibawa dengan kendaraan bak terbuka ke Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta yang letaknya hanya sekitar 500 meter dari Taman Ismail Marzuki.
Sejurus kemudian Roby, Dankie dan pemain drum Gembul turun dari panggung dan meninggalkan penonton selama beberapa menit hingga akhirnya Roby naik kembali ke atas sana untuk mengumumkan bahwa pertunjukan Navicula harus dihentikan.
Di unit gawat darurat rumah sakit tersebut Made segera mendapat tindakan medis dari dokter dan menerima lima jahitan di belakang kepalanya. Kondisinya sadar.
Sekitar pukul setengah tiga Sabtu [30/7] dini hari, Navicula memberikan informasi perihal kondisi Made melalui akun Twitter @naviculamusic. Dikabarkan bahwa Made saat itu sedang berada di sebuah rumah sakit dan telah mendapatkan lima jahitan di kepala.
Satu jam sesudahnya, Navicula memberikan kabar lebih lanjut masih melalui Twitter. “Hasil CTscan Made menunjukkan tidak ada pendarahan atau retak, dan bisa rawat jalan, tapi tetap perlu observasi. Get well soon Made,” tulis Navicula.
Selain membawakan lagu-lagu yang telah dikenal penggemarnya seperti “Menghitung Mundur,” “Kali Mati,” “Everyone Goes to Heaven,” “Budi Si Berani Mati” dan “Aku Bukan Mesin,” malam itu Navicula membawakan sebuah lagu baru berjudul “Refuse to Forget.” Lagu itu menurut Roby untuk mendukung gerakan melawan lupa yang mengacu pada kasus Munir.



